- Menulis adalah mengikat jejak pemahaman. Akal kita sebagai kurniaNya, begitu agung dayanya menampung sedemikian banyak data-data. #Write
- Tapi kita kadang kesulitan memanggil apa yang telah tersimpan lama; ilmu dahulu itu berkeliaran & bersembunyi di jalur rumit otak. #Write
- Maka menulis adalah menyusun kata kunci tuk buka khazanah akal; sekata tuk sealinea, sekalimat tuk se-bab, separagraf tuk sekitab. #Write
- Demikianlah kita fahami kalimat indah Asy Syafi’i; ilmu adalah binatang buruan, & pena yang menuliskan adalah tali pengikatnya. #Write
- Menulis juga jalan merekam jejak pemahaman; kita lalui usia dengan memohon ditambah ilmu & dikaruniai pengertian; adakah kemajuan? #Write
- Itu bisa kita tahu jika kita rekam sang ilmu dalam lembaran; kita bisa melihat perkembangannya hari demi hari, bulan demi bulan. #Write
- Jika tulisan kita 3 bulan lalu telah bisa kita tertawai; maka terbaca adanya kemajuan. Jika masih terkagum juga; itu menyedihkan. #Write
- Lebih lanjut; menulis adalah mengujikan pemahaman kepada khalayak; yang dari berbagai sisi bisa memberi penyeksamaan & penilaian. #Write
- Kita memang membaca buku, menyimak kajian, hadir dalam seminar & sarasehan; tapi kebenaran pemahaman kita belum tentu terjaminkan. #Write
- Maka menulislah; agar jutaan pembaca menjadi guru yang meluruskan kebengkokan, mengingatkan keterluputan, membetulkan kekeliruan. #Write
- Penulis hakikatnya menyapa dengan ilmu; maka ia berbalas tambahan pengertian; kian bening, kian luas, kian dalam, kian tajam. #Write
- Agungnya lagi; sang penulis merentangkan ilmunya melampaui batas-batas waktu & ruang. Ia tak dipupus usia, tak terhalang jarak. #Write
- Adagium Latin itu tak terlalu salah; Verba Volant, Scripta Manent. Yang terucap kan lenyap tak berjejak, yang tertulis mengabadi. #Write
- Tapi bagi kita, makna keabadian karya bukan hanya soal masyhurnya nama; ia tentang pewarisan nilai; kemaslahatan atau kerusakan. #Write
- Andaikan benar bahwa Il Principe yang dipersembahkan Niccolo Machiavelli pada Cesare de Borgia itu jadi kawan tidur para tiran… #Write
- ..seperti terisyu tentang Napoleon, Hitler, & Stalin; akankah dia bertanggungjawab atas berbagai kezhaliman nan terilham bukunya? #Write
- Sebab bukan hanya pahala yang bersifat ‘jariyah’; melainkan ada juga dosa yang terus mengalir. Menjadi penulis adalah pertaruhan. #Write
- Mungkin tak separah Il Principe; tapi tiap kata yang mengalir dari jemari ini juga berpeluang menjadi keburukan berrantai-rantai. #Write
- Dan bahagialah bakda pengingat; huruf bisa menjelma dzarrah kebajikan; percikan ilhamnya tak putus mencahaya sampai kiamat tiba. #Write
- Lalu terkejutlah para penulis kebenaran, kelak ketika catatan amal diserahkan, “Ya Rabbi, bagaimana bisa pahalaku sebanyak ini?” #Write
- Moga kelak dijawabNya, “Ya, amalmu sedikit, dosamu berbukit; tapi inilah pahala tak putus dari ilham kebajikan nan kau tebarkan.” #Write
- Tulisan sahih & mushlih; jadi jaring yang melintas segala batas; menjerat pahala orang terilham tanpa mengurangi si bersangkutan. #Write
- Menulis juga bagian dari tugas iman; sebab makhluq pertama ialah pena, ilmu pertama ialah bahasa, & ayat pertama berbunyi “Baca!” #Write
- Tersebut di HR Ahmad & ditegaskan Ibn Taimiyah dalam Fatawa, “Makhluq pertama yang diciptaNya ialah pena, lalu Dia berfirman… #Write
- ..”Tulislah!” Tanya Pena; “Apa yang kutulis, Rabbi?” Kata Allah; “Tulis segala ketentuan yang Kutakdirkan bagi semua makhluqKu.” #Write
- Adapun ilmu yang diajarkan pada Adam & membuatnya unggul atas malaikat nan lalu bersujud adalah bahasa; kosa kata. (QS 2: 31) #Write
- Dan “Baca!”; wahyu pertama. Bangsa Arab nan mengukur kecerdasan dari kuatnya hafalan hingga memandang rendah tulis-baca
- ..menulis -kata mereka- ialah alat bantu bagi yang hafalannya di bawah rata-rata>, tiba-tiba meloncat ke ufuk, jadi guru semesta. #Write
- Muhammad hadir bukan dengan mu’jizat yang membelalakkan; dia datang dengan kata-kata yang menukik-menghunjam, disebut ‘Bacaan’. #Write
- Maka Islam menjelma peradaban Ilmiah, dengan pena sebagai pilarnya; wawasan tertebar mengantar kemaslahatan ke seantero bumi. #Write
- Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari kita; sungguh, buku dapat menggugah jiwa manusia & mengubah dunia. #Write
- Bagaimana sebuah tulisan bisa mengilhami; tak tersia, tak jadi tragika, & tak menjatuhkan penulisnya dalam gelimang kemalangan? #Write
- Saya mencermati setidaknya ada 3 kekuatan yang harus dimiliki seorang penulis menggugah; Daya Ketuk, Daya Isi, & Daya Memahamkan. #Write
- Daya Ketuk ini paling berat dibahas; yang mericau ini pun masih jauh & terus belajar. Ia masalah hati; terkait niat & keikhlasan. #Write
- Pertama, marilah jawab ini: 1) Mengapa saya harus menulis? 2) Mengapa ia harus ditulis? 3) Mengapa harus saya yang menuliskannya? #Write
- Seberapa kuat makna jawaban kita atas ke-3 tanya ini, menentukan seberapa besar daya tahan kita melewati aneka tantangan menulis. #Write
- Alasan kuat tentang diri, tema, & akibat dunia-akhirat jika tak ditulis; akan menggairahkan, menggerakkan, membakar, menekunkan. #Write
- Keterlibatan hati & jiwa dengan niat menyala itulah yang mengantarkan tulisan ke hati pembaca; mengetuk, menyentuh, menggerakkan. #Write
- Tetapi; tak cukup hanya hati bergairah & semangat menyala saja jika yang kita kehendaki adalah keinsyafan suci di hati pembaca. #Write
- Menulis memerlukan kata yang agung & berat itu; IKHLAS. Kemurnian. Harap & takut hanya padaNya. Cinta kebenaran di atas segala. #Write
- Allah gambarkan keikhlasan sejati bagai susu; terancam kotoran & darah, tapi terupayakan; murni, bergizi, memberi tenaga suci… #Write
- …dan mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat & bertaqwa (QS 16: 66). #Write
- Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah & tak mudah, ada goda kotoran & darah, kekayaan & kemasyhuran, riya’ & sum’ah. #Write
- Jika ia berhasil dilampaui; jadilah tulisan, ucapan & perbuatan sang penulis bergizi, memberi arti, mudah dicerna jadi amal suci. #Write
- Sebaliknya; penulis tak ikhlas itu; tulisannya bagai susu dicampur kotoran & darah, racun & limbah; lalu disajikan pada pembaca. #Write
- Ya Rabbi; ampuni bengkoknya niat di hati, ampuni bocornya syahwat itu & ini, di tiap kali kami gerakkan jemari menulis & berbagi. #Write
- Sebab susu tak murni, tulisan tak ikhlas, memungkinkan 2 hal: a) pembaca muak, mual, & muntah bahkan saat baru mengamati awalnya. #Write
- Atau lebih parah: b) pembaca begitu rakus melahap tulisan kita; tapi yang tumbuh di tubuhnya justru penyakit-penyakit berbahaya. #Write
- Menulis berkeikhlasan, menabur benih kemurnian; agar Allah tumbuhkan di hati pembaca pohon ketaqwaan. Itulah daya ketuk sejati. #Write
- Daya sentuh, daya ketuk, daya sapa di hati pembaca; bukan didapat dari wudhu’ & shalat yang dilakukan semata niat menoreh kata.. #Write
- …Ia ada ketika kegiatan menghubungkan diri dengan Dzat Maha Perkasa, semuanya, bukan rekayasa, tapi telah menyatu dengan jiwa.. #Write
- …lalu menulis itu sekedar 1 dari berbagai pancaran cahaya yang kemilau dari jiwanya; menggenapi semua keshalihan nan mengemuka. #Write
- Setelah Daya Ketuk, penulis harus ber-Daya Isi. Mengetuk tanpa mengisi membuat pembaca ternganga, tapi lalu bingung berbuat apa. #Write
- Daya Ketuk membuat pembaca terinsyaf & tergugah; tapi jika isi yang kemudian dilahap cacat, timpang, rusak; jadilah masalah baru. #Write
- Daya Isi adalah soal ilmu. Mahfuzhat Arab itu sungguh benar; “Fakidusy Syai’, Laa Yu’thi: yang tak punya, takkan bisa memberi.” #Write
- Menjadi penulis adalah menempuh jalan ilmu & berbagi; membaca ayat-ayat tertulis; menjala hikmah-hikmah tertebar. Tanpa henti. #Write
- Ia menyimak apa yang difirmankan Tuhannya, mencermati yang memancar dari hidup RasulNya; & membawakan makna ke alam tinggalnya. #Write
- Dia fahami ilmu tanpa mendikotomi; tapi tetap tahu di mana menempatkan yang mutlak terhadap yang nisbi; mencerahkan akal & hati. #Write
- Penulis sejati memiliki rujukan yang kuat, tetapi bukan tukang kutip. Segala yang disajikan telah melalui proses internalisasi. #Write
- Penulis sejati kokoh berdalil bukan hanya atas yang tampak pada teks; tapi disertai kefahaman latar belakang & kedalaman tafsir. #Write
- Dengan proses internalisasi; semua data & telaah yang disajikan jadi matang & lezat dikunyah; pembacanya mengasup ramuan bergizi. #Write
- Sebab konon ‘tak ada yang baru di bawah matahari’; tugas penulis sebenarnya memang cuma meramu hal-hal lama agar segar kembali. #Write
- Atau mengungkap hal-hal yang sudah ada, tapi belum luas dikenali. Diperlukan ketekunan untuk melihat 1 masalah dari banyak sisi. #Write
- Atau mengingatkan kembali hal-hal yang sesungguhnya telah luas difahami; agar jiwa-jiwa yang baik tergerak kuat untuk bertindak. #Write
- Maka dia suka menghubungkan titik temu aneka ilmu dengan pemaknaan segar & baru, dengan tetap berpegang kaidah sahih & tertentu. #Write
- Dia hubungkan makna nan kaya; fikih & tarikh; dalil & kisah; teks & konteks; fakta & sastra; penelitian ilmiah & sisi insaniyah. #Write
- Dia menularkan jalan ilmu untuk tak henti menggali; tulisannya tak membuat orang mengangguk berdiam diri; tapi kian haus mencari. #Write
- Ia bawakan pemaknaan penuh warna; beda bagi masing2 pembaca; beda bagi pembaca sama di saat lainnya. Membaru, mengilhami selalu. #Write
- Maka karyanya melahirkan karya; syarah & penjelasan, catatan tepi & catatan kaki, juga sisi lain pembahasan, & bahkan bantahan. #Write
- Seorang penulis menggugah memulai Daya Memahamkan-nya dengan 1 pengakuan jujur; dia bukanlah yang terpandai di antara manusia. #Write
- Sang penulis sejati juga memahami; banyak di antara pembacanya yang jauh lebih berilmu & berwawasan dibandingkan dirinya sendiri. #Write
- Maka dalam hati, dia mencegah munculnya rasa lebih dibanding pembaca: “Aku tahu. Kamu tidak tahu. Maka bacalah agar kuberitahu.” #Write
- Setiap tulisan & buku yang disusun dengan sikap jiwa penulis “Aku tahu! Kamu tak tahu!” pasti berat & membuat penat saat dibaca. #Write
- Kadang senioritas atau lebih tingginya jenjang pendidikan tak tersengaja lahirkan sikap jiwa itu. Sang penulis merasa lebih tahu. #Write
- Sikap jiwa kepenulisan harus diubah; dari “Aku tahu! Kamu tak tahu!” menjadi suatu rasa nan lebih adil, haus ilmu, & rendah hati. #Write
- Penulis sejati ukirkan semboyan, “Hanya sedikit ini yang kutahu, kutulis ia untukmu, maka berbagilah denganku apa yang kau tahu.” #Write
- Penulis sejati sama sekali tak berniat mengajari. Dia cuma berbagi; menunjukkan kebodohannya pada pembaca agar mereka mengoreksi. #Write
- Penulis sejati berhasrat tuk diluruskan kebengkokannya, ditunjukkan kelirunya, diluaskan pemahamannya, dilengkapi kekurangannya. #Write
- Penulis sejati jadikan dirinya seakan murid yang mengajukan hasil karangan pada guru; berribu pembaca menjelma guru berjuta ilmu. #Write
- Inilah yang jadikan tulisan akrab & lezat disantap; pertama-tama sebab penulisnya adil menilai pembaca, haus ilmu, & rendah hati. #Write
- Pada sikap sebaliknya, kita akan menemukan tulisan yang berribu kali membuat berkerut dahi, tapi pembacanya tak kunjung memahami. #Write
- Lebih parahnya; keinginan untuk tampil lebih pandai & tampak berilmu di mata pembaca sering membuat akal macet & jemari terhenti. #Write
- Jika lolos tertulis; ianya jadi kegenitan intelektual; inginnya dianggap cerdas dengan banyak istilah yang justru membuat mual. #Write
- Kesantunan Allah jadi pelajaran buat kita. RasulNya menegaskan surga itu tak terbayangkan. Tapi dalam firmanNya, Dia menjelaskan. #Write
- Dia gambarkan surga dalam paparan yang mudah dicerna akal manusia; taman hijau, sungai mengalir, naungan rindang, buahan dekat.. #Write
- ..duduk bertelekan di atas dipan, dipakaikan sutra halus & tebal, pelayan hilir mudik siap sedia, bidadari cantik bermata jeli.. #Write
- Allah Maha Tahu, tak bersombong dengan ilmu; Dia kenalkan diriNya bukan sebagai Ilah awal-awal, melainkan Rabb nan lebih dikenal. #Write
- Penulis sejati hayati pesan Nabi; bicaralah pada kaum sesuai kadar pemahamannya, bicaralah dengan bahasa yang dimengerti mereka. #Write
- Penulis sejati mengerti; dalam keterbatasan ilmu nan dimiliki, tugasnya menyederhanakan yang pelik, bukan merumitkan yang sahaja. #Write
- Itupun tidak dalam rangka mengajari; tapi berbagi. Dia haus tuk menjala umpan balik dari pembaca; kritik, koreksi, & tambah data. #Write
- Penulis sejati juga tahu; yang paling berhak mengamalkan isi anggitannya adalah dirinya sendiri. Daya Memahamkan berhulu di sini. #Write
- Sebab seringkali kegagalan penulis memahamkan pembaca disebabkan diapun tak memahami apa yang ditulisnya itu dalam amal nyata. #Write
- Begitulah Daya Memahamkan; dimulai dengan sikap jiwa yang adil, haus ilmu, & rendah hati terhadap pembaca kita, lalu dikuatkan.. #Write
- ..dengan tekad bulat tuk menjadi orang pertama nan mengamalkan tulisan, & berbagi pada pembaca dengan hangat, akrab, penuh cinta. #Write
- Kali ini, tercukup sekian ya Shalih(in+at) bincang #Write. Maafkan tak melangkah ke hal teknis, sebab banyak nan lebih ahli tentangnya:)
- Kita lalu tahu; menulis bukanlah profesi tunggal & mandiri. Ia lekat pada kesejatian hidup sang mukmin; tebar cahaya pada dunia. #Write
- Maka menulis hanya salah satu konsekuensi sekaligus sarana bagi si mukmin tuk menguatkan iman, ‘amal shalih, & saling menasehati. #Write
- Jika ada ‘amal lain yang lebih kuat dampaknya dalam ketiga perkara itu; maka kita tak boleh ragu: tinggalkan menulis menujunya:) #Write
Just A Life Journey of A Girl
A Life Learner
Semoga,,kehadiranku disini,,dapat sedikit menjadi pewarna dalam hidupmu,,walau hanya setitik...
Senin, 19 September 2011
Kultwit #write Salim A. Fillah
Kultwit #AshabulKahfi Salim A. Fillah
2. Para pemuda selalu mempesona. Lihatlah mereka: bahkan tidurnya pun membawakan perubahan, apalagi jika mereka terjaga. #AshabulKahfi
3. Muda identik dengan ‘hijau’. Masih hijau artinya terus tumbuh, berkembang, menghasilkan. Sementara yang matang, membusuk. #AshabulKahfi
4. Muda identik dengan ‘tak berpengalaman’. Tapi pengalaman artinya suka hadapi masalah baru dengan cara lama. Itu berbahaya. #AshabulKahfi
5. Muda identik dengan kebersamaan dalam prihatin. Kita kadang lebih sulit bersatu jika merasa telah banyak berpunya, berdaya. #AshabulKahfi
6. Muda identik dengan kejelasan sikap. Hitam-/-putih. Ya-/-tidak. Tak ada jalan ketiga. Ini hal tepat dalam soal ‘Aqidah. #AshabulKahfi
7. Muda identik dengan gejolak. Titik temu dari ragam gejolak jadi terobosan. Di situ masa depan, bukan pendalaman bidang tua. #AshabulKahfi
8. Muda identik dengan pesona & ketangguhan fisik. Bagaimanapun 2 hal ini membantu ide perubahan untuk tampil segar & cantik. #AshabulKahfi
9. Muda identik dengan ketergesaan, inginnya wujud sekilat. Maka sabarkan, ‘tidurkan gelora’ senyampang perangkat disiapkan. #AshabulKahfi
10. Muda identik dengan masa ketergodaan & gelimang nikmat. Maka mereka yang memilih jalan sunyi dalam juang, pasti istimewa. #AshabulKahfi
Kultwit #DoaMalam Salim a fillah
Rabbi, ampuni aku sebab semua amal baik hari ini kuniatkan untukMu semata, tapi ternyata tetap ada yang menyelinap dalam dada. #DoaMalam
Rabbi, sempit dadaku sebab suaraku tak didengar, kemampuan tak dilihat, amal tak dihargai. Tapi yakinkan aku bahwa Kau bersamaku. #DoaMalam
Rabbi, punya sikap sesuai keyakinan kadang menyakitkan. Sebab ada saja yang jadi bersikap benci. Tak apa, asal ridhaMu sertaiku. #DoaMalam
Rabbi, cahayailah segala yang haq itu hingga benderang kebenarannya. Kuatkan jiwaku untuk mengikutinya, memperjuangkannnya. #DoaMalam
Rabbi, singkapkanlah yang jahat & nista hingga nampak jelas kebatilannya. Kuatkan nyaliku untuk berkata "tidak" & menjauhinya. #DoaMalam
Rabbi, indahkan di mataku segala kebajikan agar kusemangat melakuinya & bersenyum menghargai para baik hati, sekecil apapun ianya. #DoaMalam
Bahagianya Merayakan Cinta @salimafillah
- Barakah itu membawakan senyum meski air mata menitik-nitik. Barakah itu menyergapkan rindu di tengah kejengkelan.. #BMC
- Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belai lembut saat dada kita sesak oleh masalah.. #BMC
- Barakah itu mengubah tudingan "Ini salahmu!", menjadi bisik lembut kala terpeluk, "Maafkan aku ya Cinta.." #BMC
- Barakah itu mengganti diksi, dari "Kok bisa-bisanya sih kamu?!" menuju, "Aku mengerti Sayang, sabar ya.." #BMC
- Barakah itu melafazhkan "Kamu ke mana aja sih?!" agar terdengar sebagai "Aku di sini, menantimu dalam rindu yang menyesak!" #BMC
- Barakah itu membahasakan "Aku tuh pengennya kamu ...!" agar berbunyi "Cinta, makasih ya, kau membuatku ..." #BMC
- Kapanpun, barakah membawakan kebahagiaan; sebuah letup gembira di hati, rasa lapang di dada, jernih dalam akal, nikmat dalam jasad. #BMC
- Barakah itu membawakan keceriaan musim semi, apapun jua masalah yang sedang menyengat, membadai, menggigilkan rumahtangga kita. #BMC
FIQIH JUMAT @Salimafillah
- Bicara, mengingatkan kawan agar diam, memainkan kerikil (kalau sekarang mungkin BB, i-Phone, dll) saat Khutbah bisa "laghaa". #FiqhJumat
- Dibolehkan; Khathib mengajak bicara salah 1 hadirin . Tidak sebaliknya. #FiqhJumat
- Disarankan; berjalan berpindah tempat duduk untuk mengurangi rasa kantuk. #FiqhJumat
- Di antara tanda pemahaman mendalam seorang Khathib adalah memperpendek khuthbahnya, memanjangkan shalatnya. #FiqhJumat
- Khuthbah itu tetap harus mengandung; pujian pada Allah, shalawat atas Nabi, ayat Al Quran, wasiat taqwa, & doa untuk muslimin. #FiqhJumat
- Khuthbah Jumat BUKANLAH ta'lim & tabligh. Khuthbah seharusnya difokuskan pada wasiat taqwa, bukan kajian tematik. #FiqhJumat
- Nabi mencontohkan; berkhuthbah itu seperti Panglima Perang mengomando pasukan; tidak lembek & lemah, tidak membuat mengantuk. #FiqhJumat
- Demikian ringkas kecil #FiqhJumat Shalih(in+at), selamat duduk, mengambil kembali tenaga jiwa & kekuatan ruhiyah untuk sepekan nan sibuk;)
- Atas wasiat taqwa dalam khutbah tadi; yang hadir sampaikan pada yang tak hadir; suami ke isteri, ayah ke anak, sehat pada sakit. #FiqhJumat
Kultwit kaya dan miskin @salimafillah
2. Andai pada kemiskinan sama sekali tiada kebaikan; akankah Nabi bersabda, "Aku diperlihatkan surga; kebanyakan penduduknya miskin adanya"?
3. Nabi juga pernah menyebut betapa seorang miskin, kusut, compang-camping & tak laku; lebih baik dari sepenuh bumi si tampan berkekayaan.
4. Adalah 'Abdurrahman ibn 'Auf; si kaya yang penampilannya tak beda dengan budaknya, suatu hari menangis ketika dihidangkan roti lembut.
5. Tersedu dia berkata, "Mush'ab ibn 'Umair lebih bail dari kami. Dia tak pernah menikmati makanan seperti ini. Kala syahid di Uhud, ..."
6. ...tiada kafan baginya selain selimut usang; kalau ditutupkan ke kepala terbuka kakinya, jika diselubungkan ke kaki tersingkap kepala.."
7. Tangisan 'Abdurrahman adalah sebab terkenang ungkapan Nabi saat melihat Mush'ab di Madinah; si tampan yang sejak hijrahnya menjadi papa..
8. ..kulitnya kering, mengelupas bagai ular berganti sisik, baju bertambal, tubuhnya kurus kurang gizi. Nabi menitikkan airmata & bersabda..
9. "Bagaimana kalian, jika dunia dibukakan, lalu masing-masing kalian berlimpah kekayaan & kemuliaan?", beliau pandangi sahabat-sahabatnya..
10. Mereka yang saat itu nyaris semua faqir adanya menjawab; "Jika demikian keadaan kami pastilah baik ya RasulaLlah!". Nabi menggeleng..
11. ..dengan pelupuk tergenang, "Tidak! Demi Allah! Demia Allah, kalian hari ini lebih baik daripada kalian pada hari itu!"
12. Maka tangis 'Abdurrahman adalah tangis iri; kepada mereka yang dikaruniai kematian di zaman ketika kesempitan menjadi urat persaudaraan.
13. Seperti tangis 'Umar ketika perbendaharaan Persia yang berlimpah bertimbun di Madinah. "Mengapa kau menangis hai Amirul Mukminin...
14. ..padahal Islam dijayakan lewat kepemimpinanmu, & kaum muslimin dimakmurkan melalui dirimu?" 'Umar makin tersedu. "Jika ini kebaikan..
15. ..kata 'Umar sambil menunjuk timbunan harta itu; "Mengapa tidak terjadi di zaman RasuluLlah & Abu Bakr? Celaka! Mengapa di zamanku?"
16. Hari-hari ini kita mendengar bahwa menjadu kaya itu mulia; sekaligus bahwa miskin itu tercela. Tapi jika faktanya Nabi & sahabat utama..
17. ..lebih khawatir kan kekayaan daripada kemiskinan; menyebut lebih baiknya keadaan miskin daripada kaya; sudikah kita tuk memeriksa lagi?
18. Bahwa kaya & miskin, lapang & sempit, bahagia & duka; bukanlah ukuran mulia & tercelanya manusia. Kemuliaan ada pada sikap menjalaninya.
19. Bahwa Quran memuji Sulaiman yang berlimpah harta & sekaligus mengutuk Qarun si kaya. Lalu ia muliakan Ayyub yang sakit, berduka, & papa.
20. Allah mencela orang yang kala diberi kurnia mengatakan "Tuhanku memuliakanku" & saat disempitkan rizqi mengeluh "Tuhanku menghinakanku."
21. QS Al Fajr ayat 15-16 ini mencela rusaknya pola fikir ketika kebanyakan insan -yang beragama- menjadikan kekayaan sebagai ukuran mulia.
22. Dan Nabipun berdoa, "Wa laa taj'alid dunya akbara hammina, wa la mablagha 'ilmina.. Jangan jadikan dunia cita terbesar & tujuan ilmuku."
23. Saya bersaksi, benarlah Nabi tercinta; "Ni'mal malish shalih, li rajulish shalih! Sebaik-baik harta yang baik, di tangan lelaki baik."
24. Maka kekayaan itu kebaikan yang pujian padanya bersyarat; jika penggenggamnya mulia & bahkan memandang sebagai beban sebelum ditunaikan.
25. Tetapi memang demikianlah segala 'alat beramal kita di dunia; kekayaan, ilmu, kekuasaan, cinta; semua kemuliaannya tersandar pada nilai.
26. Pun demikian kemiskinan; ia menjadi tak layak dicela sebab Allah Maha Kuasa menjadikannya jalan kemuliaan bagi begitu banyak hamba.
27. Tentu intinya bukan soal miskin; melainkan sikap SABAR yang ada di dalamnya. Sebagaimana bukan kaya-nya; melainkan ungkapan syukurnya.28. Salim sangat bersyukur dengan kehadiran para Gurunda yang membangkitkan semangat kita tuk jadi kaya; al. Gurunda @ipphoright & lainnya.
29. Sungguh tuk kebangkitannya, ummat hari ini memerlukan pilar-pilar kebaikan yang ditopang oleh berlimpahnya harta nan tak merasuki hati.
30. Ummat ini memerlukan sosok-sosok laiknya Abu Bakr, 'Utsman, 'Abdurrahman ibn 'Auf. Tapi tak kurang-kurangnya, Akhfiya'ul Atqiya'..
31. ..Mereka yang bertaqwa & tersembunyi, mereka yang miskin harta tapi doanya mengguncang 'Arsyi; hajat ummat atas mereka besar sekali.
32. Mu'adz ibn Jabal menangis di hadapan 'Umar menjelang ajal; sebab dia, karena ilmu & kedermawanannya telah terkecualikan dari Akhfiya'..
33. Kita hari-hari ini lalu merenungkan sabda Nabi; "Bukan syirik yang aku khawatirkan pada kalian sepeninggalku, melainkan jika dunia...
34. ..dibentangkan pada kalian, lalu kalian saling berlomba memperolehnya hingga sebagian memukul sebagian yang lain!" (Muttafaq 'Alaih)
35. Maka demikianlah dunia dikhawatirkan Sang Nabi pada para sahabat yang beriman. Lalu bagaimana kita yang tertatih mengeja makna berislam?
36. Lalu izinkan Salim membawakan makna kekhawatiran itu; di tengah gegap gempita semangat kita tuk jadi kaya. Moga ia jadi rem nan berguna.
37. Moga Allah teguhkan kita beriman & beramal di segala keadaan; berbagi tanpa menanti penuhnya pundi; sedekah tak menunggu kaya berlimpah.
38. Bersabar tanpa harus terkena musibah; bersyukur sebab nikmatNya tak henti mengucur. Dua kendaraan yang sama-sama mengantar ke surga.
39. Mendidik diri tuk memiliki sikap utama (sabar & syukur) yang mengabadi, tetap lebih harus didahulukan daripada menjadi kaya yang fana.
40. Sebab bakda upaya yang semestinya; atau pilihan jua; menjadi miskin tak menghalangi Salman, Abu Hurairah, Bilal, & Ibn Mas'ud tuk mulia.
41. Demikian Shalih(in+at), maafkan Salim yang faqir ilmu & terlalu berani bicara tentang harta yang Salim-pun bukan ahlinya. Mohon maafkan.
42. Doakan istiqamah menasehati diri; Jalan Kaki Tidak Keki, Naik Mercy Tidak Grogi, Naik Angkot Tidak Sewot, Naik Garuda Tidak Jumawa.. :)
ILMU atau Harta @salimafillah
Islamedia - 1. Shalih(in+at), mari mengawali Senin pagi yang diberkahi dengan semangat untuk mengalihbentuk sebagian kekayaan, dari #harta menuju #Ilmu. 2. Sebab keutamaan #Ilmu di atas #harta, telah disebutkan 'Ali ibn Abi Thalib dengan begitu indahnya. Mari kita sebut & tambahkan beberapa.
3. #Ilmu afdhal daripada #harta, sebab ia warisan Rasul & Anbiya', sementara emas-perak-permata, dilungsurkan Fir'aun, Qarun, & raja-raja.
4. #Ilmu lebih utama dibanding #harta, sebab ilmu menjaga pemiliknya, sementara pemilik harta bersusah payah menjaga kekayaannya.
5. #Ilmu lebih hebat daripada #harta. Jika ilmu menguasai harta, jadi mulialah keduanya. Jika harta menguasai ilmu, kan terhinalah keduanya.
6. #Ilmu lebih agung dibanding #harta, sebab kekayaan akan berkurang jika dibelanjakan, sementara pengetahuan bertambah jika dibagi-bagi.
7. #Ilmu lebih setia daripada #harta. Ilmu menyertai pemiliknya menuju kematian & kebangkitan. Tapi harta tak mau serta & tetap di dunia.
8. Pemilik #Ilmu terhormat & dibutuhkan semua insan; dari jelata hingga para raja. #Harta hanya berguna, di hadapan hajat faqir & miskin.
9. Bagi pemilik #harta, alangkah banyak musuh yang jahat & kawan tak tulus. Sementara pemilik #Ilmu, akan banyak saudara & sedikit lawannya.
10. Pemilik #harta hanya digelari yang baik-baik jika membagi kekayaannya. Pemilik #Ilmu, digelari yang baik-baik sejak berburu pengetahuan.
11. Tamak terhadap #Ilmu, membuat mulia di depan guru, kawan, & lawan. Tamak terhadap #harta, menjijikkan di mata orang miskin maupun kaya.
12. Di akhirat kelak, pemilik #harta akan rumit urusan sebab berbelitnya hisab, sementara pemilik #Ilmu akan mendapat kemudahan & syafa'at.
13. Keagungan pemilik #harta ada pada kekayaan yang terletak di luar dirinya. Kemuliaan pemilik #Ilmu ada pada pengetahuan yang menyatu.
14. Musuh #Musa yang ber-#harta; Fir’aun, jatuh karena sombong-mengaku tuhan. Kawan Musa yang ber-#Ilmu; Khidzir, rendah hati-mengaku hamba.
15. Semua ibadah & ketaatan pada Allah, dilakukan dengan #Ilmu. Tapi umumnya kemaksiatan keji & munkar, dilakukan dengan #harta.
16. Sulit menemukan kemaksiatan yang ditujukan untuk memperoleh #Ilmu. Bertabur banyaknya kedurhakaan yang ditujukan untuk mendapat #harta.
17. #Harta membawa kesedihan sebelum mendapatkannya, memberi ketakutan setelah memperolehnya. #Ilmu itu kegembiraan & keamanan, kapanpun.
18. Mencintai #Ilmu, punya maupun tidak, adalah mataair kebajikan. Mencintai #harta, baik memilikinya ataupun papa, adalah sumber keburukan.
19. Adam diciptakan, lalu dia dibekali #Ilmu -bukan #harta-, yang membuatnya unggul di hadapan para malaikat. (QS 2: 31-34)
20. Rabb menurunkah wahyu pertama terkait #Ilmu (QS 96: 1-5). Allah memerintahkan Dia ditauhidkan dengan ilmu (QS 47: 19). Bukan #harta.
21. #Harta hanya bisa mulia & membawa ke surga jika dibersamai #Ilmu. Ilmu tak harus disertai harta untuk itu. (Simpulan, HR Ath Thabrani)
22. Orang ber-#harta & ber-#ilmu yang berinfaq, pahala-nya SAMA DENGAN orang berilmu yang baru bercita untuk itu. (Simpulan HR Ath Thabrani)
23. #Ilmu #harta. HR Ath Thabrani yang tersimpul di nomor 21-22, berbunyi sbb: ~>
24. "Terbagi hamba-hamba Allah itu menjadi 4 golongan. Golongan pertama, dikaruniai Allah #Ilmu & #harta. Maka dia bertaqwa kepada Allah…
25. …Dan menafkahkan hartanya di jalan Allah. Golongan kedua; diberi Allah #Ilmu, namun tak dilimpahi #harta. Maka dia bertaqwa padaNya…
26. …& selalu berkata pada dirinya, "Andai dikarunia seperti hamba pertama, aku akan berbuat sebagaimana yang dia lakukan"… #Harta #Ilmu
27. …Sesungguhnya pahala kedua orang ini SAMA. Hamba ketiga; diberi #harta tanpa beroleh #Ilmu. Maka dia tak bertaqwa padaNya, berbuat…
28. …sia-sia & dosa. Hamba keempat, tak ber-#harta & tak ber-#ilmu, maka dia tak bertaqwa & selalu berkata pada dirinya; "Andai aku…
29. …diberi harta seperti hamba ke-3, aku juga akan melakukan hal sia & kemaksiatan seperti dia." Dosa kedua orang ini SAMA." #Ilmu #harta
30. Demikian sekelumit di pagi ini. Sungguh Salim tak hendak mengajak benci #harta; tapi mari sedikit-banyak mengalihbentuknya jadi #Ilmu
Pagi ini, mari menjadi ahli #Ilmu; yang bisa bedakan nasehat dengan ghibah, yang bisa memilah antara melakukan perbaikan dengan olok-olok:)