Just A Life Journey of A Girl

Just A Life Journey of A Girl

A Life Learner

Semoga,,kehadiranku disini,,dapat sedikit menjadi pewarna dalam hidupmu,,walau hanya setitik...

Senin, 19 September 2011

Kultwit #semangatpagi Salim A Fillah

  • Kita semua sudah divonis MATI. Tinggal menunggu eksekusi. Mari jalani hari-hari menanti ia dengan penuh makna:) #SemangatPagi
  • Ingat mati jadikan hidup hati-hati, hingga beroleh yang abadi. Lupa mati mematikan jiwa jauh sebelum jasad berkalang bumi! #SemangatPagi
  • "Insan akan mati", ujar Al Ghazali, "Di atas apa yang dia biasakan hidup padanya." Mari istiqamahkan kebaikan, sekecil apapun. #SemangatPagi
  • Saat memanah, arahkan lebih tinggi sebab ada gravitasi. Saat bercita, mimpilah lebih jauh dari apa yang bisa dijangkau kerja. #SemangatPagi
  • Kita tak selalu memperoleh apa yang disuka, maka kita belajar menyukai apapun yang kita peroleh. Rasa syukur itu memperkaya. #SemangatPagi

Kultwit #Doapagi Salim a. fillah

  • Allah, jadikan ikhlasku bagai susu. Tak campur kotoran, tak disusup darah. Murni, bergizi, menguati. Langit ridha, bumi terilhami. #DoaPagi
  • Allah, jadikan dosa mendekatkanku padaMu dengan taubat nashuha. Jadikan ibadah tak menjauhkanku dariMu gara-gara membangga. #DoaPagi
  • Allah, untuk tanah nan gersang; jadikan aku embun pada paginya, awan teduh bagi siangnya, dan rembulan menghias malamnya. #DoaPagi
  • Allah, jika aku harus berteman khawatir, jadikan ia dzikirku mengingatMu. #DoaPagi
  • Allah, jika aku harus berteman rasa takut, jadikan ia penghalang dari mendurhakaiMu. #DoaPagi
  • Allah, jika aku harus berkawan gelisah, jadikan ia titik mula amal-amal shalih menjemput keajaiban menenangkan. #DoaPagi
  • Allah, jadikan semua gejolak di dalam hatiku mengantarku mendekat pada ridha dan surgaMu. #DoaPagi
  • Allah, berkahi tiap kata yang mengalir dari ujung jemari ini; menebar kebaikan, mencantikkan kebenaran, menggerakkan perbaikan. #DoaPagi
  • Allah, lempangkan lisanku dalam kebenaran, indahkan tuturku dengan kesantunan, jadikan yang mendengar terbimbingkan. #DoaPagi
  • Allah, ilhamkan kebajikan di tiap huruf yang terucap, lahirkan amal tuk setiap kata yang terbicara, alirkan pahala tiada putusnya. #DoaPagi
  • Allah, jangan henti rindu pada NabiMu menyala syahdu, agar akhlaq teladannya merembesi tingkahku. #DoaPagi
  • Allah, jangan henti gelegak neraka menyergap menggiriskan, di tiap hasrat nista dan goda kemaksiatan. #DoaPagi
  • Allah, jangan henti bayang surgaMu melekati mata, di tiap niat dan kesempatan amal shalih nan terbuka. #DoaPagi
  • Allah, jangan henti keesaanMu terteguh di jiwaku, sebab kuasa dan rizqiMu juga tak sedetikpun berpisah dariku. #DoaPagi
  • Allah, jangan henti bimbingMu menuntunku, selama jantung berdenyut selalu, semasih Kau hembuskan nafas dalam paru. #DoaPagi
  • Allah, jangan henti kasihMu mengguyuriku, hingga santun budiku menebar rasa sayang, bahkan membalik penentang jadi pejuang. #DoaPagi
  • Allah, jangan henti keagunganMu tertaut dalam nyali, hingga kuhadapi segala yang aniaya dengan gagah dan berani. #DoaPagi
  • Allah, jangan henti kemuliaanMu menyusupi syaraf-syarafku, hingga tiap ilmu jadi amal, tiap hasrat baik jadi akhlaq terlaku. #DoaPagi
  • Allah, jangan henti penjagaanMu mengarus dalam darahku, hingga syaithan tak beroleh tempat dalam alirannya menderu. #DoaPagi
  • Allah, jangan henti rasa malu padaMu menyumsum di tulangku, mengurat di ototku; hingga semua gerak dalam ridhaMu. #DoaPagi
  • Allah, jangan henti keindahanMu mengilhamkan senyum dan cerah di wajahku, agar pergaulanku semanis madu. #DoaPagi
  • Allah, jangan henti kebenaranMu tertambat di akal dan lisanku, terpancar dalam sikap, terjuang di tiap kalimat. #DoaPagi
  • Allah, jangan henti namaMu menyapa hati dan jiwa, dengan gigil takut, gerisik harap, dan getar cinta. #DoaPagi

Minggu, 18 September 2011

Kultwit #renungan oleh @salimafillah

Tempat paling aman untuk bersembunyi adalah ruang kejujuran. Tempat yang paling nyaman untuk lari adalah lapangan pertaubatan.

Layang2 justru bisa terbang saat melawan angin. Jgn gentar saat memang harus menentang. Tapi pastikan ada benang terhubung padaNya #Renungan

Tiap orang hebat di kedudukan apapun mulai bermasalah saat lebih b’hasrat menjadi menarik daripada menjuangkan apa yg diyakininya. #Renungan

Tiap ahli bidang apapun mulai bermasalah saat lebih berhasrat tunjukkan keahlian dibanding berkarya pada apa yang dicintainya. #Renungan

Tiap penyeru menuju jalan apapun mulai bermasalah ketika terjebak pada kesibukan menanggapi saja, bukan bawakan gagasannya jd amal #Renungan

Kata #Quran, tugas kita bukan jadi hakim, melainkan SAKSI yang baik agar kelak punya pembela saat jadi terdakwa di pengadilanNya. #Renungan

Setelah itu jadilah penyeru kebajikan. Kitalah penyala cahaya, bukan pengeluh gelap. Kita bawakan teladan sebelum mengenalkan. #Renungan

Mk, saat semua di sekitar terasa gelap & sesak, curigalah bahwa kita ini yang dikirim Allah sebagai cahaya tuk mereka. Berkilaulah #Renungan

Penyeru kebajikan percaya & t’pesona pada sekecil apapun niat baik, bahkan yang masih mengintip malu. Tugas mereka menumbuhkannya. #Renungan

Para penyeru kebajikan terhubung ke langit dengan ibadahnya, menjadikan kerendahan hati sebagai penggenap bagi cantiknya kebenaran #Renungan

Penyeru kebajikan ialah wujud rahmatNya; lembut hati & pemaaf, memudahkan bkn memp’sulit, membawa kabar gembira & tak membuat lari #Renungan

Sederhana itu memperindah semua. Yang miskin jadi kaya. Yang kaya jadi mulia. Yang jelata dipercaya. Yang berkuasa, dicinta. #Renungan

Tiap orang akan mati di atas apa yang dia biasakan hidup padanya. Maka sekecil apapun kebaikan sangat berharga tuk diistiqamahkan. #Renungan

Kebenaran hanya cantik, bila bersanding dengan kerendahan hati. Kebaikan hanya manis, jika dibersamai ketulusan jiwa. Rasakanlah;) #Renungan

Pandai, tampan, shalih; itu mempesona. Tapi mengunjuk-unjukkan pada sesama bahwa kita pintar, rupawan, atau taat; pasti memuakkan. #Renungan

Berbahagialah dia yang berhasil sembunyikan ibadahnya dari mata manusia, tetapi mampu tampilkan bekas indahnya berupa akhlaq mulia #Renungan

Tiap musibah telah diukur kadarnya; takkan lampaui apa yang bisa ditanggung. Jadi yang diujiNya bukan kemampuan, melainkan kemauan #Renungan

Tiap penghalang di jalan kehidupan tertakdir ada untuk satu alasan sederhana: Mengetahui sebesar apa tekad kita untuk melampauinya #Renungan

Melihat spion itu perlu. Tapi sesekali saja. Merenungi masa lalu itu niscaya. Tapi jangan sampai ia membelenggu langkah maju kita. #Renungan

Sebab kita tak tahu ke mana takdir membawa, mari syukuri ketidaktahuan itu dengan merencanakan & mengupayakan yang terbaik. #Renungan

Mari kerjakan apa nan semestinya kita kerjakan. Sebab jika tidak, kita akan mendapat kesulitan yang semestinya tidak kita dapatkan #Renungan

Banyak hal tak kita minta, tapi Allah tak pernah alpa berikannya. Maka pada apa nan kita mohon, jangan marah jika dapat yang lebih #Renungan

Banyak hal tak kita minta, tapi Allah tak pernah alpa berikannya. Maka pada apa nan kita mohon, jangan marah jika dapat yang lebih #Renungan

Kita tak selalu memperoleh apa yang kita suka, maka kita belajar menyukai apapun yang kita peroleh. Jadilah ia makna kesyukuran;) #Renungan

Jika ada perintah Allah terasa berat bagi kita; cara membuatnya jadi ringan ialah dengan melaksanakannya. Kemudahan itu menyertai. #Renungan

Iman tak menjaminmu tuk selalu berlimpah & tertawa. Tapi ia menjaminmu merasakan lembut elusanNya pada apapun dera nan menimpa. #Renungan

Ikhlas tak selalu berarti ringan rasa hati kala melakukan. Yang berat itu jua keikhlasan; bahkan pahala sebanding kadar kepayahan. #Renungan

Yang ikhlas itu semurni susu; bergizi & mudah dicerna. Jika tercampur kotoran & darah; membuat muntah atau tertelan jadi penyakit. #Renungan

Rasa, kata, & laku nan ikhlas bagai susu; nikmat didengar & dilihat, mudah dicerna jd energi jiwa, menggerakkan amal shalih sesama #Renungan

Sebaliknya; fikiran, ucapan, tulisan, & tindakan, yang riya’ lagi kagum diri; ia memuakkan, atau tertelan menebar kefasikan. #Renungan

Ikhlas membuat syaithan tak sanggup hinggap, tak berdaya menggoda. Kesejatiannya rahasia, malaikat pencatatpun terhijab darinya. #Renungan

RidhaNya tak terletak pada sulit/mudahnya, lapang/sempitnya, suka/dukanya. Ia ada pada ketaatan kita di semua warna kehidupan itu. #Renungan

Sombong tak disebabkan adanya kelebihan. Sulaiman nan lebih kaya & kuasa bisa tawadhu’. Tapi Firaun, dia kerdil jiwa, sempit ilmu. #Renungan

Setiap nikmat membawa serta ujiannya. Ketampanan Yusuf juga sepaket dengan iri saudara, perbudakan hina, goda wanita, & penjara. #Renungan

Setiap musibah seringnya juga jalan menuju kejayaan; di penjara lah Yusuf berjumpa rekan yang kelak merekomendasikannya pada Raja. #Renungan

Kekuasaan dipergilirkan, juga nasib kaum. Bani Israil di Mesir berjaya bersama Yusuf; lalu Dinasti itu kalah; mereka diperbudak. #Renungan

Niat-niat berkebajikan mendahului kita menghadap Allah untuk mengetuk pintu-pintu karunia yang memampukan kita mewujudkannya. #Renungan

Cinta & kebersamaan dengan mereka yang mulia, mengantar kita ke kedudukan yang mungkin takkan dicapai hanya dengan amal pribadi. #Renungan

“Betapa susah mencari sahabat sejati.” | “Sulit sebab yang kau cari sahabat nan memberi. Sahabat untuk diberi, ah, banyak sekali. #Renungan


Lain-lain

Tak mudah mengucapkan yang benar di saat yang tepat. Kadang lebih sulit; tak mengatakan yang keliru di waktu nan menggoda tuk bicarakannya;)

Pasti tak mudah menjawab pernyataan tokoh-tokoh agama itu. Pasti lebih sulit lagi jika 250 juta insan tuntut keadilan kelak di depanNya T_T

Tiap sesak, luka, & pengerdilan harapan telah cukup membahayakan jika dijejalkan dalam 1 jiwa. Sungguh 250 juta kepedihan itu mengerikan T_T

#Jujur, membuat masalah mengerdil & jadi masa lalu. #Dusta membesar-rumitkan persoalan & menjadikannya bahaya masa depan;)

Sabtu, 17 September 2011

Henti Sejenak....

Sejenak saja........
berhenti melangkah,
mencoba merenung, bertafakur, menyeksamai akan makna pada setiap kepingan episode hidup yang telah aku lalui, dan yang sedang kulalui......

semoga akan ada secercah cahaya berpendar pada tiap potongan episode hidup ini,,
padaMu Tuhanku....
hamba berserah, berpasrah, bertawakal....
akan apa yang akan tertulis dalam sejarah takdirku.....
dengan tetap berpegang pada tali yang Kau ulurkan untuk para hambaMu.

Semoga Engkau menyukaiku....... aamiiin......

Senin, 25 Juli 2011

Sergapan Rasa Memiliki


..milik nggendhong lali..
rasa memiliki membawa kelalaian

-peribahasa Jawa-

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
”Subhanallaah.. wal hamdulillaah..”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
”Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
♥♥♥

#JCPP

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.


Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..
Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..

Berjuang di Dunia Berharap Pertemuan di Syurga


Kehidupan tak ubahnya sebuah perjalanan. Ada asal, perlu perbekalan, ada terminal tempat istirahat dan punya tujuan. Seperti seorang musafir yang tinggal sebentar di bawah pohon rindang untuk beristirahat. Tapi segera setelah itu iapun meninggalkan pohon tersebut.

Ahh...betapa singkatnya bukan?

Dalam Perjalanan kita yang panjang, yang penuh peluh dan ujian ini mestinya tidak merubah skenario perpindahan yang seharusnya kita lewati. Perpindahan dari kondisi yang buruk menjadi lebih baik. Dari kemaksiatan kepada ketaatan dalam kedamaian Islam.

Perjalanan ini akan cepat sekali membuat kita letih, membuat kita payah. Jiwa kita seperti berada di tengah gurun yang panas yang segera perlu bertemu dengan air telaga yang bening agar ia segera kembali menemukan kesegarannya dan menjadi kuat untuk menempuh kembali setiap aral.

Biarlah banyak orang yang mengira menapaki jalan ini adalah jalan yang begitu berat, sebagaimana para nabi, orang-orang shalih, dan para syuhada. Biarlah orang menyangka seperti itu. Karena kita sungguh merasakan kebalikannya. Kenikmatan, ketenangan, kebersahajaan, yang tak bisa terbayar oleh apapun.

Karena kita justru merasakan pengorabanan itu sebagai sebagaian syarat kebahagiaan, karena segala payah dan kesulitan di jalan ini adalah kunci ketenangan yang sebenarnya.

Karena memang ada pertemuan yang indah yang ingin kita jumpai di akhir masa.

Disana…

Pasti….

#BDBPS# Tarbawi

Mencintai itu KEPUTUSAN

Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar kemudian iapun berkata, “Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang akan kamu temui di sini.” Itulah kalimat pertama Utsaman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya di Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti.

Sebab cinta adalah kata lain dari memberi... sebab memberi adalah pekerjaan... sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat... sebab pekerjaan itu harus ditunaikan dalam waktu lama... sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh... maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia akan mengatakan, “Aku mencintaimu.” Kepada siapapun!

Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian di situ. “Aku mencintaimu,” adalah ungkapan lain dari, “Aku ingin memberimu sesuatu.” Yang terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari, “Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia... aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin... aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku, proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang kulakukan padamu... aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusak dirimu dan proses pertumbuhan itu...” Taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. Sekali kamu mengatakan kepada seseorang, “Aku mencintaimu,” kamu harus membuktikan ucapan itu. Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan melakukan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi.

Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap. Tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.

Jalan hidup kita biasanya tidak linier. Tidak juga seterusnya pendakian. Atau penurunan. Karena itu konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang sulit. Disitu konsistensi diuji. Di situ juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tegah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam situasi yang longgar.

Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya merasakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat lagi yang lain. Bahkan setelah sang pencinta mati. Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya. Tak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu.

~ Anis Matta ~